Dr. Anwar Husin S.H.M.M.M.H Menyikapi dengan Jernih Pelemahan Nilai Rupiah

foto: Dr. Anwar Husin S.H.M.M.M.H

Penurunan nilai tukar rupiah saat ini berada dalam fase yang mengkhawatirkan. Nilai tukar terendah Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, tercatat berada di level Rp18.022 per Dolar AS, pada awal Juni 2026, yang menjadikannya sebagai rekor pelemahan terdalam Rupiah sepanjang sejarah.

Pelemahan nilai tukar sebenarnya didominasi oleh sentimen eksternal, bukan semata-mata karena fundamental ekonomi Indonesia yang rapuh. Meskipun nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat, indikator ekonomi makro Indonesia secara fundamental masih cukup kuat dan terkendali.

Read More

​Dari sudut pandang mikro, pelaku usaha harus mulai berani memutus rantai ketergantungan impor dengan berburu alternatif bahan baku lokal (Tingkat Komponen Dalam Negeri/TKDN) serta melakukan efisiensi energi dan rantai pasok.

Sementara kita, sebagai masyarakat, memegang peran penting yang tidak kalah krusial melalui aksi-aksi sederhana namun berdampak makro, berkomitmen penuh mengonsumsi produk buatan lokal, menahan diri dari belanja barang mewah impor yang tidak mendesak, serta tidak ikut-ikutan melakukan spekulasi atau menimbun dolar.

Melemahnya rupiah memang sebuah tantangan berat, namun, sekaligus cermin yang memperlihatkan bagian mana dari struktur ekonomi kita yang perlu segera dibenahi. Lewat kerja sama yang solid, respons kebijakan yang taktis, dan rasa nasionalisme ekonomi yang nyata, tantangan volatilitas kurs ini justru bisa kita balikkan menjadi batu loncatan menuju kemandirian ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Pelemahan rupiah saat ini, disebabkan berbagai factor. Faktor Geopolitik dan global, seperti perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, memicu ketidakpastian ekonomi, membuat investor memindahkan dana mereka ke asset yang lebih aman (sefe heven) seperti Dolar AS.

Kebijakan Moneter AS, dimana suka bunga bank sentral AS (The Fed) yang tetap tinggi turut menarik minat modal asing keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Sentiment domestik, dimana tingginya ketergantungan bahan baku impor membuat kebutuhan akan Dolar AS di dalam negeri meningkat tajam salah satu factor mempengaruhi penurunan rupiah terhadap dolar US. Permintaan yang tinggi ini mendevaluasi nilai Rupiah.

Turunya nilai tukar rupiah terhadap dolar, menjadi momentum tepat untuk berbenah secara fundamental. Persoalan fundamental yang kini tengah terjadi harus dipecahkan secara bersama-sama dengan melakukan strategi jitu untuk kemajuan ekonomi bangsa yang signifikan.

Strategi-strategi tepat dan terukur akan mampu menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi akibat factor geopolitik dunia yang tidak menentu.

Pelemahan Rupiah ibarat pisau bermata dua sisi tajamnya lebih banyak mengarah pada risiko pembengkakan biaya. Sebenarnya ada sisi positif yang bisa diraih dari fenomena ini. Keuntungan yang bisa diperoleh dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS, salah satu barang dan jasa yang dihasilkan di Indonesia menjadi lebih murah bagi pembeli asing.

Dengan demikian, produk-produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Hal ini dapat meningkatkan volume ekspor dan pada akhirnya mendongkrak penerimaan devisa negara.

Sektor pariwisata salah satu sektor yang mendapat manfaat langsung dari pelemahan rupiah. Bagi wisatawan asing, liburan di Indonesia menjadi lebih terjangkau ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang asing, seperti dolar AS. Hal ini dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan asing dan pendapatan yang dihasilkan dari sektor pariwisata.

Pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat investasi di Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor asing. Ketika mata uang lokal melemah terhadap mata uang asing, maka harga aset-aset di Indonesia dalam mata uang asing menjadi lebih murah bagi investor asing.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah, dapat meningkatkan aliran modal masuk ke Indonesia, yang pada gilirannya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Pelemahan rupiah juga dapat mendorong produsen dalam negeri untuk lebih mengandalkan bahan baku lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Hal ini dapat membantu meningkatkan daya saing industri dalam negeri dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dalam rangka membuka lebar-lebar masuknya investasi, Presiden Prabowo Subianto secara agresif telah memangkas aturan berbelit dan membentuk Satgas Deregulasi khusus untuk mempercepat perizinan investasi.

Hendaknya pelemahan rupiah terhadap dolar harus menjadi titik balik untuk menciptakan peluang baru dalam memperkuat fondasi ekonomi Indonesia yang lebih kuat.  Kita harus berhenti melihat krisis sebagai ancaman akan tetapi menjadikannya sebagai kesempatan.

 

(Dari berbagai sumber. Penulis Adalah Anggota Pembina Laskar Prabowo 08 Nasional dan Tim Ahli Penasehat Khusus Presiden RI Bidang Hukum Pada Kantor Penasehat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional).

Related posts