Ajang Silarurahmi Masyarakat Nelayan Tradisional Muara Angke Adakan Ritual Nyadran

foto ist

Jakarta-Indonesia Weekly

Masyarakat Nelayan Tradisional, Muara Angke, Sabtu (08/11/2025) di kawasan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, adakan acara nyadran, sebagai bentuk silaturahmi, mendoakan arwah leluhur dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan berkah yang diberikan selama ini.

Read More

Acara tersebut diawali dengan memotong kerbau yang kemudian kepalanya diarung ke laut bersama hasil bumi lainnya. Nyadran adalah bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam dengan makna simbolis yang dalam pada setiap ritualnya.

Budaya nyadran selaras dengan prinsip memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Makna acara nyadran ini dapat dipetik menurut Allahyarham KH M Dian Nafi, pertama terkait keimanan tercermin pada ekspresi keagamaan, semisal dengan pembacaan Al-Quran, dzikir, yang dapat mengokohkan keimanan.

Kedua menjaga diri (hifdsun nafs), diwujudkan dengan saling memberi jamuan atau suguhan yang baik kepada tamu yang sejatinya untuk menghilangkan tradisi minum-minuman yang dapat merusak badan dan akal.

Ketiga, yakni tentang aspek kerukunan dengan cara memulihkan hubungan baik dan mengakhiri persengketaan secara berkeadilan. Jadi budaya nyadran tambahnya dapat menjadi momen rekonsiliasi universal.

Alex, tokoh masyarakat Muara Angke ketika diminta pendapatnya, terkait tujuan, acara nyadran mengatakan, tujuan utamanya adalah mendoakan para leluhur yang sudah meninggal dunia serta mengenang jasa-jasanya yang maknanya sehebat apapun manusia ketika hidup di dunia, pasti akan kembali ke haribaan-Nya.

Mengingat jasa leluhur agar semua orang bisa mengingat kematian. Acara ini juga tandasnya sebagai ajang siratuhrami sesama nelayan yang diwujudkan dengan kegiatan saling berkumpul yang disesuaikan  pada nilai-nilai keislaman universal yang tumbuh dan berakar kuat dalam tradisi Islam Nusantara. (zul)

Related posts