Indonesia Weekly
Jakarta-Ribuan kapal menumpuk di Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan Jakarta Utara. Kapal nelayan yang akan melaut kesulitan untuk keluar akibat alur keluar tertutup oleh kapal-kapal nelayan yang sedang memarkirkan kapalnya.
Untuk membantu kapal yang akan keluar, petugas dari UPT Muara Angke dikerahkan. Berdasarkan pantauan Indonesia Weekly puluhan petugas terlihat kerja keras mulai hari Senin hingga Kamis sore ini, membantuk keluar masuk kapal di pelabuhan Muara Angke.
Kepadatan kapal nelayan, sebenarnya sudah berlangsung sejak Oktober 2025. Seperti penjelasan, pengurus kapal, Nunung . Menurutnya penyebab kapal nelayan tak bisa melaut diantaranya masih banyak kapal yang belum mendapat izin dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Selain itu, adanya aturan pemerintah yang mengharuskan kapal nelayan memasang VMS (Vesesel Monotoring System) atau system pengawasan berbasis satelit yang wajib dipasang pada kapal-kapal perikanan untuk memantau lokasi, kecepatan, dan aktivitas secara real-time. “Apa bila tidak dipenuhi maka kapal tidak boleh melaut,” terangnya.
Lebih lanjut Nunung mengatakan, untuk membeli VMS cukup mahal, mencapai 15 hingga 20 juta per unit, serta biaya operasional atau pajak tahunan yang juga puluhan juta. Kebijakan ini, dianggap memberatkan karena pendapatan nelayan untuk saat ini sangat minim, karena berapa bulan belakangan factor cuaca yang tidak mendukung.
Sehingga banyak kapal nelayan memilih memarkirkan kapalnya .Kendati demikian VMS sebenarnya banyak juga manfaatnya. Syabandar Perikanaan Muara Angke Robbani mengatakan alat ini, penting untuk mencegah illegal fishing, memantau kapatuhan daerah penangkapan, keselamatan awak, serta mamaksimalkan operasional.
“Manfaat untuk nelayan bisa membantu dalam pencarian dan penyelamatan (SAR), memantau posisi kapal, dan memastikan kepatuhan awak kapal,” ujarnya ketika diwawancarai belum lama ini. (zul)






