Jakarta-Indonesia Weekly
Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta bekerjasama dengan TNI Angkatan Laut, PSDKP dan Polres Pelabuhan Tanjung Priok akhirnya, menarik 67 unit kapal nelayan rusak yang telah bersandar selama 10 tahun di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.

Kapal yang rusak itu dipindahkan sementara ke belakang Grand Bay dan pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Nuansa penarikkan, ditandai suasana tegang, dipicu cuaca buruk, ombak tinggi, aparat yang menarik terlihat tegang, apalagi kebanyakan kapal kondisinya rusak dan telah berumur tua, bisa saja tiba-tiba kapalnya terisi air akibat kapalnya bolong-bolong karena tidak ada perawatan.

Langkah penarikan kapal rusak ini dinilai banyak orang adalah langka tepat dan sigap para petugas. Evakuasi rencananya berlangsung dalam berapa hari kedepan. Ditariknya kapal-kapal rusak dan tidak produktif di Muara Angke akan menjadi kunci utama lancarnya jalur distribusi logistic ikan yang selama ini terganggu.
Tak Sebanding
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto mengaku heran ketika melihat fakta dilapangan. “Sepuluh tahun, kok, kamu diemin saja gimana?” katanya kepada seorang petugas di Muara Angke, Selasa, (03/02/ 2026) lalu.

Kendati ,pemilik kapal membayar uang tambat tetapi katanya tidak sebanding dengan potensi kerugian akibat area bersandar kapal yang tidak produktif.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Lotharia Latif nampaknya merespon cepat dan bersama Pemvrop DKI dan instansi terkait lainnya serta pemilik kapal langsung melaksanakan langka sigap dan cepat. “Penarikkan ini sudah dikoordinasikan dengan pemiliknya,” ucap Lotharia dalam kesempatan yang sama.
Dalam kunjungan, rombongan Komisi IV dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, juga mengungkap kapasitas dermaga pelabuhan Muara Angke hanya untuk 500 unit berbanding terbalik kenyataan jumlahnya lebih dari 2000-an kapal nelayan yang bersandar.
Tak pelak, gara-gara over kapasitas, untuk sekedar mengisi BBM saja memakan waktu berhari-hari. Berdasarkan pengamatan wartawan IW, masih ribuan kapal sandar di pelabuhan nelayan yang terletak di utara Jakarta itu.
Alasan belum keluar izin dan tak sanggup memasang VMS serta ditambah cuaca ekstrem, menjadi halangan para nelayan untuk berlayar.
Lebih lanjut Titiek Soeharto mengatakan, kapal yang menumpuk lebih dari kapasitas pelabuhan itu, selain membuat operasional tidak efisien, seluruh kapal yang sedang bersandar berpotensi terbakar cepat ketika terjadi kebakaran. “Ada keluhan juga dari pemilik dan nahkoda kapal bahwa izin untuk berlayar itu kemarin terhambat, ini supaya segera dipercepat izinnya,” tandas Titiek. (zul)






