Jokowi Effect, IHSG dan Nilai Rupiah Mengalami Penguatan

0
8

Jakarta –  IW

Sejumlah indikator keuangan seperti nilai tukar rupiah dan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penguatan. Dalam dua hari
ini, IHSG dan nilai rupiah terhadap Dolar AS terus menguat.

Penguatan tersebut dampak Jokowi Effect. Untuk Sekadar
informasi IHSG sore ini ditutup di level 6.507 atau naik 25 poin (0,4%).
Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 14.030 atau
mengalami fluktuasi.

Ekonom CORE Piter Abdullah menjelaskan kemenangan
Jokowi-Ma’ruf pada hitung cepat memang belum resmi. Bahkan semalam capres nomor
urut 02 Prabowo Subianto masih mengklaim ke “Jadi belum ada official data
dan ada kemungkinan berlanjut gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Jadi
investor sepertinya masih akan menunggu,” ujar Piter, Kamis (18/4/2019).

Dia mengungkapkan, selanjutnya jika hasil resmi Komisi
Pemilihan Umum (KPU) sudah keluar dan menetapkan Jokowi sebagai presiden
terpilih, masih ada potensi gangguan dari pihak yang tidak menerima keputusan
tersebut.

“Lalu jika KPU sudah resmi menetapkan Jokowi sebagai
presiden terpilih dan Prabowo menerima, rupiah juga masih tetap dipengaruhi
oleh kondisi global. Jika globalnya tetap dovish, rupiah dalam jangka menengah
panjang berpotensi menguat,” imbuh dia.

Ekonom Bank DBS Masyita Crystallin menjelaskan usai Pemilu
biasanya pasar merasa lebih optimis. Hal ini karena kemungkinan hasil Pemilu
yang sejalan dengan hasil survei beberapa lembaga.

“Ini sesuatu yang wajar dan expected, bisa jadi
sebagian dari upside terhadap rupiah ini sudah price in sebelumnya,” kata
dia.

Menurut dia, investor obligasi saat ini sudah cukup
optimistis dengan Indonesia terutama di surat utang tenor panjang dan setelah
hitung cepat keluar mulai mengalihkan dolar AS ke rupiah.

Dia menjelaskan neraca perdagangan yang mencatat surplus
selama dua bulan berturut-turut juga membantu mendorong penguatan rupiah.
Memang, ke depan yang harus diperhatikan adalah neraca perdagangan dan neraca
pembayaran.

Kemudian rendahnya harga minyak akhir tahun lalu dan
stimulus China yang sudah mulai menunjukkan dampaknya menjadi positive upside
untuk neraca perdagangan Indonesia.

Selanjutnya, Indonesia tetap kompetitif dari sisi investor
obligasi global karena tingkat bunga yang masih cukup menarik, karena
dikombinasikan dengan kebijakan makro yang pruden (dtk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here