Surat WHO Grand Design Pihak Asing Ingin Jatuhkan Pemerintahan Jokowi

660
Ketum M34, Dr. Anwar Husin, SH, MH

Jakarta, Indonesia Weekly

Ada kemiripan  krisis ekonomi 1998 dengan kasus penanganan wabah Corona  di Indonesia .  Selain  sama-sama mengelobal,  Presiden Republik Indonesia baik Soeharto maupun Jokowi sama-sama didekte pihak asing agar mengikuti keinginan mereka.

Bedanya Soeharto pada saat itu, ditekan IMF agar menutup bank yang kalah clearing, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)  menekan Jokowi agar segera mengumumkan darurat nasional Corona di Indonesia.

Surat  Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, kepada Jokowi, mengingatkan kita pada krisis monter tahun 1998. Kala itu, presiden Soeharto  ditekan IMF agar menutup bank yang kalah clearing. Kendati para ekonom meminta pak Harto menolak usulan IMF itu, namun tekanan IMF dan suara oposisi terus bergaung di dalam negeri lewat media massa.

Rupiah pun semakin terpuruk. Bukan karena fundamental ekonomi, tetapi kepanikan dan distrust terhadap pak  Harto membuat rakyat menarik uang dari bank. Rush terjadi. Berdampak parah, disituasi ini, pak Harto malah menerima usulan IMF. Bank ditutup.

Dampaknya sistemik. Ekonomi runtuh. Pak Harto akhirnya jatuh. Apa yang terjadi pada kasus corona juga bisa sama seperti tahun 98. Masalah Corona ini tidak separah wabah DBD tetapi kepanikan yang disebabkan oleh Corona jauh lebih dahsyat dari wabah apapun. Mengapa?

Pertama,  bisa jadi ini berkaitan dengan politik China phobia yang sudah jadi stigma di masyarakat. Semua orang tahu bahwa Corona berasal dari China dan stigma China sebagai musuh oleh sebagian orang itu sudah terbentuk sejak jaman PKI kalah.

Kedua, keadaan ekonomi sedang buruk. Kalau ada pengumuman darurat nasional. Dampaknya kepada ekonomi semakin buruk dan bertambah buruk. Ini pasti dimanfaatkan oleh oposisi untuk mendiskreditkan pemerintah.

BACA JUGA :  Tak Sebanding Dengan Kabupaten Lain Purbalingga Hanya Terima 85 Alat Rapid Test

Ketiga, Pemerintah Daerah (PEMDA) rame rame hamburkan uang alasan wabah nasional. Aksi korupsi APBD sudah sulit diaudit karena semua mengabaikan tertib anggaran demi antisipasi corona. Semua orang Ormas dan LSM rush Pemda untuk minta uang membantu menanggulangi wabah corona. Rupiah akan terjun bebas. Barang bahan pokok langka.

Akhirnya Jokowi jatuh. Tentara ambil alih dan orang yang tak suka Jokowi tampil sebagai pemenang dalam pemilu dengan retorika  macam-macam.  Contoh Jakarta! Hanya dibilang genting,sSemua bisnis jasa cafe, restoran, hiburan sepi pengunjung. Kelas menengah yang menyumbang pajak terbesar di jakarta mengkarantina dirinya di rumah.

Geliat ekonomi loyo. Semua program Pemda seperti formula E dan bangun rusun dan perbaikan lingkungan berhenti. Dana darurat dari APBD dikuras. Uang mengalir ke ormas dan LSM yang ikut dalam program antisipasi virus corona.

Beda Sikap

Sikap orang Cina jauh berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia pemberitaan di media massa dan sosmed cenderung bernuansa negatif, misalnya beberapa banyak korban, pasar modal drop beberpa  poin, rush di pusat perbelanjaan.

Media di negara Tirai Bambu juga mengulas Covid-19 tapi dengan kemasan yang sangat berbeda sehingga hasilnya juga bagai bumi dan langit dengan di negara kita.  Di China, Humanisme ditonjolkan. Di Indonesia, Politik dan Agama sangat kental diperlihatkan.

China juga punya korban jiwa atas virus COVID-19, tapi yang disoroti adalah kerja keras para tenaga medis yang bekerja keras tak kenal waktu di garis depan, jauh dari keluarga bahkan kadang harus rela meregang nyawa.

Seorang suami yang setia menemani sang istri yang terkena COVID19, walaupun sang suami mengenakan protection Gear lengkap. Seorang anak yang menyuapi kedua orang tuanya dengan berbekal masker di wajahnya.

BACA JUGA :  Upaya DPR Memperbaiki dan Menguatkan KPK Secara Kelembagaan Negara

Sementara di Indonesia, media menyoroti ungkapan mengaitkan virus dengan agama tertentu, penderita COVID-19  yang namanya diexpose langsung dibuatkan narasi latar belakang dengan fantasi pembaca masing masing, belum lagi ada Pemerintah Daerah melakukan tindakan yang tak selaras dengan pusat, yang malah menimbulkan kegalauan dikalangan rakyat.

Ketika media di sini ramai-ramai memberitakan rush di pusat perbelanjaan, media di Tiongkok menyoroti warga Wuhan yg berbondong2 menjadi relawan dgn apa yg mrk miliki. Salah satu yg bikin trenyuh adalah ketika ada seorang kakek berusia 80an thn yg ikut mendaftarkan diri sebagai relawan.

Terlihat beberapa anak cucunya berusaha mencegah niat sang kakek, namun ia ucapannya membuat mrk mengurungkan niat jadi sirna. “Seumur hidup ini saya sudah menikmati begitu banyak dari negara ini. Sekarang saya punya kesempatan utk berbakti pada negara, mengapa kalian menghalangi saya? Saya lebih baik mati saat melayani orang lain daripada mati di rumah jompo.”

Ketika Indonesia mengulas berita kita menutup diri dari negara lain, China menerima bantuan tenaga medis dari Jepang, USA dan beberapa negara di eropa, sehingga ketika negara tersebut menderita COVID19, China yang sudah mulai bisa berdiri setelah warganya banyak yang sembuh mulai mengirimkan tenaga medisnya ke Jepang, Irak dan beberapa negara di eropa untuk membantu mereka, tanpa mengingat masa lalu apa yang pernah terjadi diantara mereka.

Hal yang membuat haru tentunya China dan Jepang karena masa lalu mereka sangatlah kelam dan tidak baik. Semoga kita bisa meneladani kisah kisah inspiratif seperti ini ketimbang sibuk mencari keuntungan atau menghakimi sesama. Media Indonesia harus belajar banyak dari China. Lebih baik mereka menjadi Relawan dalam mencari berita Humanisme ketimbang mencari berita untuk mencari sensasi.

BACA JUGA :  Cegah Penyebaran Covid-19, Depok Bentuk Kampung Siaga Mencapai 97.6 Persen

Mudah-mudahan melalui  artikel, ini masyarakat Indonesia  tidak dapat dimanfaatkan olehkelompok-kelompok tertentu untuk mencapai kepentingannya sesaat, dan rakyat Indonesia dapat bersatu padu melawan berbagai bentuk infiltrasi asing yang dapat memperlemah ketahanan nasional.Mari kita terus kobarkan semangat, berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya yang selalu dikobarkan oleh founding father kita, Presiden Sukarno.

Kita harus bertekad bahwa tahun 2045 merupakan awal kebangkitan Indonesia menjadi negara besar yang dihormati dan disegani oleh negara lain. (dari berbagai sumber). Penulis:  Dr Anwar Husin, SH, MH Ketua Umum Militan 34.